Seorang petapa turun dari gunung penggasingan.Dia mencoba kembali ke kota yang dulu dia besar dan tumbuh menjadi seorang durjana.Dengan membawa tongkat kecil dia mulai melangkahkan kakinya di kota yang sudah 10 tahun dia tingalkan.Dengan penuh ketegaran dia coba menatap lagi kekerasan di dunianya yang dulu.
Pertama kali Petapa itu menatap kosong hamparan kota.Dilihatnya sekumpulan pemuda gagah sedang mabuk dilorong gelap yang mengaku tak berdosa.Dengan sombongnya mereka menengak puluhan botol minuman keras.
Disapalah mereka..
Dengan sombongnya salah satu dari mereka berkata ‘’tuhan tak akan benci kepada kami,kami adalah pemenag,kami kuat,puluhan botol minuman tak ada artinya bagi kami’’.Seorang petapa hanya tersenyum dan beranjak pergi sambil mellirik mereka yang sedang asyik bernyanyi
Di kembali berjalan menelusuri kota usang yang dulu telah ternoda.Berharap ada perubahan yang menakjubkan ke arah yang lebh sampoerna.Dia kembali berjalan menuju satu pertokoan yang tak terpakai.Dilihatnya sepasang wanita muda dan pria setengah baya sedang asyik bercumbu di bawah kuasa malam.Dengan bangganya mereka menunjukan kemaksiatan mereka.
Disapalah mereka..
Dengan bangganya sang wanita itu berkata sambil berjalan masuk ke salah satu toko yg kosong‘’ngerti apa kau lelaki tua,berjalan aja udah membawa tongkat…pulang sajalah kau kerumah..tidurlah sana jangan kelayapan di tempat sepi”.Sang petapa hanya tertunduk malu,,dan tanpa melirik dia pergi menjauh dari mereka
Sang petapa merasa malu melihat perubahan di kotanya.Dia merasa telah merusak dan meningalkannya.Setelah peninggalannya bukan kemajuan yang dia lihat.Tapi kehancuran yang semakin hancur.Di merasa lelah untuk berjalan,matanya yang telah cekung mengajaknya untuk berbaring
2 jam berlalu.Dia terbanngun dalam sejenak kematiannya.Dilihatnya seorang gadis kecil membawakannya sepotong roti.Sang petapa tersenyum,dalam senyumannya dia berkata dalam hati “siapakah gadis kecil ini,dia lugu,dia perlu di asuh,dia butuh kasih sayank seorang ibu dan sebuah cermin seorang bapak.dimanakah orang tuanya..???di tengah gelapnya malam yang dingin seperti ini dia masih berada di jalan…tak ada seorang pun yang menemaninya”
Dalam lamunannya sang petapa di kejutkan dengan suara merdu dari bibir sang gadis “makanlah roti ini dan pergila kembali ke tempat kamu menyepi dan menghindar dari kerasnya kotamu,dan kamu akan tau jawaban dari pertanyaan yang mengumpal dari hatimu”.Sang petapa seakan akan tidak percaya dengan apa yang dia alami.Dan dengan senang hati dya menerima sepotong roti tawaran gadis kecil itu tanpa takut ada racun di dalamnya.Dengan lahapnya sang petapa itu menyantap roti di tanannya.Tanpa disadari gadis kecil itu menghilang bagai di telan bumi.Dalam kebinggungannya sang petapa tersadar.Dia harus kembali ke tempat dia bertapa.
Dalm perjalananya menuju tempat pertapaannya sang petapa selalu bertanya pada hati kecilnya dan memikirkan apa ya terjadi tadi.belum berapa lama dia berjalan dilihatnya sinar terang dari kejauhan.kebinggungan sang petapa semakin bertambah.didekatinya cahaya itu sambil berhayal apa yang ada di depannya.semakin lama dia semakin dekat berada dalam cahaya itu.dia merasakan dia pernah melihatnya ternyata itu adalah sebuah pertokoan yang sudah ia lewati.
Dengan sedikit berlari dia menuju ke tempat itu berharap dia bisa menyelamatkan sepasang lelaki dan perempuan yang sedang asyik bercumbu di bawah malam.belum sampai pada tempat itu dia dikejutkan lagi dengan kehadiran gadis kecil tadi.sang gadis berkata “didalam toko itu ada seorang wanita dan pria yang asyik bercumbu,sang petapa semakin binggung dan berkata pada gadis itu’’kenapa kamu tidak menolongnya’’ sang gadis hanya tersenyum dan berkata ‘’aku tak sangup lagi menolong mereka yang sudah ngak mau keluar dari ruangan yang usang itu.pergilah kembali meneruskan perjalananmu tragedi ini ada yang mengaturnya.seakan akan di hipnotis,sang petapa pun menurut pada gadis kecil itu,dan melanjutkan perjalanannya menuju tempat pertapaannya.
Sang petapa kembali berfikir,apa yang sudah terjadi tadi.belum selesai dalam gellisah otaknya kembali dia dikejutkan dengan kerasnya suara ambulance yang lewat di depannya menuju lorong gelap yang tadi dilewatinya,dia semakin binggung dengan yang terjadi di kotanya.di ikutinya ambulance yang tadi lewat di depannya,ternyata memang menuju lorong yang tadi di lewatinya.dia segera berlari menuju lorong itu dan melihat apa yang sebenarnya telah terjadi.
Sungguh di di kagetkan dengan sesosok tubuh pri kekar yang tadi di sapanya,dengan tak bernafas dia terbujur kaku di sebuah selokan kecil.sang petapa merasa ngak percaya dengan apa yang di alaminya,belum selesai dia berada dalam kebinggungannya,dia melihat sosok gadis kecil tadi yang melihat kejadian itu di kejauhan.tnpa pikir panjang lebar sang petapa menghampirinya dan bertanya “apa yang sebenarnya terjadi di depan mata saya?? seakan-akan di balik kejadian ini kamu mengetahuinya”
Sang gadis hanya tersenyum dan berkata “wanita yang bercumbu dengan pria setengah baya di dalam toko tadi adalah ibu saya,dan yang terbujur kaku dalam selokan itu adalah bapak saya,mereka berdua membuang saya ketika saya berumur 3 bulan di dalam kandungan.berdosakah saya bila saya hanya menatap yang terjadi dalam kematian mereka”
Dengan sangat amat kaget sang petapa menutup matanya dalam beberapa detik.di selinggi hembusan nafas yang dalam di kembali membuka matanya.dia bertambah kaget ketika dia melihat sekitarnya.ruangan gua tempat dia bertapa ada di pelupuk matanya dan tak berubah sedikitpun dari awal dia bertapa
By: wahyoe sastrayat
»©«

Tidak ada komentar:
Posting Komentar